living my life

life is unfair but it's still beautiful indeed! :D

Grace is the fact that GOD knows every mistake I WILL make in ministry yet He still chose me.

Rick Warren

It always seems impossible until it’s done

Nelson Mandela

Sabtu Pagi di Penghujung Bulan Agustus…

Sebenarnya gue flegmatis abis. Cuek, antisosial, orang-orang pada takut deket gue, auranya gaenak.. Makannya banyak yang heran pas gue masuk Komunikasi (dan PSDM)

Buat kalian yang kenal gue pas SMA atau kuliah pasti gak percaya. “Ah, orang lo ceria dan rame gitu!” Tapi kenyataannya emang lain, Tanya aja sama keluarga gue kalo nggak percaya. Kayaknya emang gue hanya bisa jadi rame dan ramah dalam kondisin yang gue rasa kompatibel (weitss)

Di keluarga, gue terkenal kaku. Sampe-sampe om gue pernah marahin nyokap gue yang notabene adiknya. Dia bilang nyokap gue nggak bener didik anak, kok anaknya nggak mau gaul sama sodara. Padahal dalam hati gue PENGEN. Pengeeeen banget buat joinan sama mereka. Tapi karena pembawaan gue yang jutek dan cuek, mereka ngira gue sengaja menjauhkan diri.

Gue pun sedih. Nangis di pojokan setiap inget kejadian itu (ini serius). Yang gue butuhkan bukanlah penghakiman, tetapi pengertian.

Di sekolah dan kampus gue lebih bisa “melepaskan” diri. Mungkin karena tidak terikat oleh imej lama. Mungkin juga karena keadaan yang mengharuskan gue untuk belajar. Makannya gue seneeeng banget kalo dikelilingi temen, dapet perhatian dari temen, dapet ucapan ultah dari temen. Rasanya gue bukan lagi si antisosial yang dijauhi, gue bukan lagi si jutek yang nggak punya temen, gue nggak lagi sendirian.

Well, a phlegmatic girl who will be the next Public Relations. Soon. Gila nggak? Gadis diem yang masuk Komunikasi, gadis nggak simpatik yang jadi kabiro PSDM. Gadis cuek yang jadi PKK!

Doa gue malem ini:

Ya Tuhan, berikanlah aku hukmat untuk mengatur perkataan dan tindakanku agar jadi berkat buat orang lain. Terutama, berikanlah aku hati yang penuh KASIH untuk lebih perhatian dan ramah sama semua orang. Anyway, makasih banget Tuhan, udah jadi temen aku saat aku sendiri, penegur saat aku lalai, dan pemulih saat aku jatuh.

Love, YOUR daughter.

DO NOT leave any comment please! Otherwise your comments will not be replied. Thanks.

Kisah Si Tukang Cat

Pernahkan anda merasa pekerjaan anda tidak ada harganya? Seakan-akan semua bisa berjalan semestinya tanpa andil anda. Atau pernahkah anda merasa sakit hati ketika orang lain yang menikmati pujian dan mendapat eksistensi dari hasil pekerjaan anda, sedangkan anda sendiri sama sekali tidak dikenal orang?

Saya juga pernah merasakannya. Bukan ingin dipuji atau gila hormat, tapi lebih pada respek dan apresiasi. Lebih kepada rasa bahwa “saya dibutuhkan loh ternyata”…

Dalam kegalauan itu (ecieee) ada suatu kisah yang menghibur saya.

Saya teringat suatu renungan pagi yang saya baca tentang tukang pengecat jembatan. Sama sekali tidak ada kebanggaan yang bisa didapat dari pekerjaan itu. “Tetapi ini adalah pekerjaan yang perlu diselesaikan”, kata si tukang cat.

Tukang itu sedang mengecat bagian dalam menara Jembatan Mackinac di Michigan. Pekerjaan itu dilakukan untuk memastikan agar baja dari struktur gantung yang sangat besar itu tidak berkarat bagian dalamnya, karena karat dapat membahayakan ketahanan jembatan tersebut.

Kebanyakan dari 12.000 orang yang melintasi Selat Mackinac setiap harinya bahkan tidak tahu bahwa mereka bergantung pada tukang cat yang melakukan pekerjaannya dengan setia.

Pekerjaan yang kecil bahkan tak terlihat, bukan berarti tak memiliki makna. Bukan berarti tidak ada yang melihat dan memperhatikannya. Bagaimanapun, DIA yang mengawasi bumi memperhitungkan setiap jerih payah kita. Karena itu bersukacitalah dan bersyukurlah dalam setiap usaha yang kita lakukan, karena DIA adalah adil dan setia!

Saya teringat sebuah lirik lagu yang meneguhkan:

Pada kehendakMu, Bapa, kumau s’lalu taat

Pada janjiMu yang setia, kutahu ku dapat percaya

Kau menjadikan s‘galanya indah pada waktunya

Orang yang menantikanMu tak akan dipermalukan

Kau takan pernah terlambat mem’bri jawaban doa

Kesabaranku berbuah

Indah pada waktunya.

Semoga menjadi berkat. Selamat hari ini.

Sondre Lerche

—Say It All

Yak! Inilah lagu yang menemani kegalauan ujian saya selama ini: Sondre Lerche with Say It All :)

Ada yang tahu Sondre? Benar! Itu adalah minuman jahe hangat dengan bola-bola ketan …

Itu “ronde”, Tif…. -_-

Errr, baiklah, kita lanjutkan. Sondre Lerche Vaular adalah penyanyi, gitaris, dan penulis lagu asal Norwegia. Buat yang nonton Java Jazz kemarin pasti tahu, soalnya Sondre Lerche termasuk salah satu artis yang tampil dalam festival Jazz tahunan itu. Mau tau lagunya? Cekidot!!

The Overload Syndrome

Saya tertarik ketika melihat sebuah buku yang sampulnya bergambar cangkir kopi yang bertumpuk-tumpuk begitu tinggi sampai hampir rubuh. Judulnya “Overload Syndrome”, bagaimana hidup dalam keterbatasan anda.

Melihat cangkir-cangkir kopi itu, saya senyum-senyum saja. Bukankah kita sering menerima pekerjaan tapi akhirnya keteteran sendiri? Sampai tugas-tugas itu bertumpuk, hampir rubuh dan membuat kita overload.

Everybody have their own limit, but few of them know when it reaches the limit…

Kesadaran akan keterbatasan memanusiakan diri kita. Mari hidup dengan keterbatasan kita (yang kita benci, kita paksa, bahkan kita ingkari, namun akan tetap ada). Seperti kata seorang kawan saya: jangan berusaha bertahan dalam hidup tapi cobalah untuk bersahabat dengannya.

Mari belajar bersahabat dengan kelemahan, kegagalan, dan keterbatasan kita.

Mari belajar, karena rasa menerima tidak turun dari langit.

Pengen Sakit

nb: another late-post text..enjoy! xD

Yak, sakit masih jadi topik kita kali ini! Hehe J

Entah kenapa banyak inspirasi waktu sakit.

Saya teringat suatu episode kartun Doraemon yang menceritakan Nobita yang ingin sakit. Why? Karena dia melihat Shizuka yang diberi ibunya makan melon saat sakit. Dia ingin melonnya juga, jadilah ia meminta Doraemon untuk membuatnya sakit.

Agak lucu yah…

Tapi anehnya saya sering memanjatkan permohonan serupa, ingin sakit supaya bisa kupu-kupu. Padahal sakit itu mengandung resiko lain yang pastinya tidak enak. Sepertinya saya memiliki permohonan yang salah. Yang diinginkan Nobita adalah melonnya, bukan sakitnya Shizuka kan?

Bila kuku kita memanjang, kita memotong kuku, bukan jarinya kan?

Demikian juga, jangan pernah memohon ingin sakit saudara-saudara, for ANY reason. Kesehatan itu mahal. Jika suatu hari kita rasanya ingin sakit saja daripada berkegiatan, mungkin yang kita butuhkan hanyalah sebuah istirahat. J 

Sakit Tepat Waktu

nb: ini adalah teks yang telat dipost karna beberapa hal..hehehe..cekidot!

Tempo hari saja saya memeriksakan diri ke dokter. Ruam merah yang mulanya hanya ada di wajah dan leher kini telah meluas ke sekujur tubuh. Oleh dokter saya didiagnosa terserang virus Morbili alias campak.

What a life!

Untuk kesekian kalinya saya terserang penyakit dalam enam bulan terakhir.

Dulu saat masih SMA, boleh dibilang selama tiga tahun, hanya sekali saya sakit serius. Padahal tiap hari ulangan, belum lagi PR dan kegiatan OSIS. Di sini, tidak seberat itu tapi hampir tiap bulan saya sakit! Baik yang ringan seperti demam atau diare, maupun yang agak serius seperti ini.

Seorang teman yang berasal dari daerah yang sama dengan saya langsung berkata “Kon homesick be’e…” (kamu homesick kali)

Well, maybe distance does matter…

Tapi toh waktu pulang kampung sebulan yang lalu saya juga sakit. Di rumah.

Saya berpikir: mungkinkah dengan berkurangnya kesibukan tubuh kita jadi lebih permisif terhadap virus dan penyakit?

Mungkin ya, mungkin tidak. Sebenarnya di sini kesibukannya memang berkurang secara kuantitas kegiatan, tapi durasi dan rasa capeknya lebih besar.

Satu hal yang saya syukuri, tiap penyakit yang datang selalu “tepat waktu”. Oktober lalu sakitnya datang ketika tanggung jawab besar saya sudah selesai. Kali ini, sakitnya datang ketika masih H-2 minggu ujian, which means saya masih punya kesempatan recovery walaupun singkat…

“Lo gila ya tif..mana ada orang yang nganggep sakitnya tepat waktu??”

Entahlah. Yang jelas saya merasa ini semua merupakan bagian rencana besar yang baik adanya. Sekarang, penyakitnya masih ada, tapi cara pandang saya terhadapnya sudah berubah, dan saya mensyukurinya. Bukankah rasa syukur terhadap hal-hal kecil akan membuat kita lebih menikmati hidup?

Then, let’s give thanks, at least for the moment we’re awake :)